Kamis, 16 Desember 2010

Memaknai Sebuah "Rizki"


Pada hakikatnya, setiap manusia oleh Allah SWT sudah ditetapkan rizkinya, sejak mereka berada di dalam kandungan sang ibu. Tercatat dalam salah sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda, “Hakikatnya, proses penciptaan kalian itu, dahulu berada di dalam perut ibu kalian selama lebih kurang empat puluh hari. Kemudian (percampuran sperma dengan ovum) menjadi segumpal darah. Lalu berubah lagi, menjadi segumpal daging. Setelah itu, Allah memerintahkan kepada malaikat-Nya untuk menuliskan empat hal yang berkaitan dengan janin tersebut. Allah berkata kepada malaikat, ‘Tulislah amalnya, rizkinya, ajalnya, dan nasibnya (sengsara atau bahagia).” (HR Bukhari dari Abdullah bin Mas’ud).

Dalam bahasa Arab, usaha mencari rizki untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia disebut dengan al-kasb (jamak: al-Makasib). Dalam hadis yang lain, Rasulullah SAW bersabda, “Makanan yang paling baik untuk dimakan adalah yang seseorang hasilkan dari usaha (kasb)-nya.” (HR Tirmidzi, Abu Dawud, Nasai, Ibnu Majah, dan Ahmad). Dalam versi yang lain, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada usaha paling baik yang dilakukan oleh seseorang selain dari usaha tangannya sendiri.” HR Ibnu Majah).

Al-Mubarakfuri, pen-syarah Sunan At-Tirmidzi dalam Tuhfah al-Ahwadzi bi Syrah Jami’ al-Tirmidzi-nya menjelaskan bahwa maksud dari min kasbikum (dari usaha kalian) adalah usaha mandiri sendiri sebagai bentuk tawakalnya kepada Allah SWT, tanpa menggantungkan hidup dan kehidupan kepada orang tua, kerabatnya, maupun anak-anaknya. Apa yang seseorang hasilkan adalah murni usahanya.

Dengan demikian, bekerja atau berusaha untuk mencari rizki guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, merupakan salah satu perbuatan yang mulia, dan memiliki nilai tinggi di sisi Allah SWT. Allah SWT sendiri telah menjamin bahwa setiap orang akan mendapatkan rizkinya jika berusaha. Apa yang manusia hasilkan, merupakan buah kerjanya.

Namun, dalam kenyataan yang terlihat di sekitar kita, banyak orang yang sudah berusaha sekuat tenaga. Ibarat memeras keringat membanting tulang, namun hasilnya ternyata tidak sesuai dengan upaya maksimalnya. Tidak jarang malah ada yang usahanya minimal, tapi hasilnya maksimal. Apakah dari hal demikian, Allah SWT menyalahi janji-Nya?

Jawabannya tentu tidak. Nilai sejati usaha manusia sebenarnya tidak mesti dan melulu dilihat dari jumlah nominal. Tapi juga bisa dilihat dari sisi lain, yaitu nilai berkah yang terkandung di dalamnya. Karena itu, dalam hadis yang lain Rasulullah SAW tegaskan bahwa apa yang dihasilkan dari usaha seseorang hendaknya atas dasar upaya positif, atau jalan yang baik, tidak curang, “Perbaguslah kalian dalam usaha mencari rizki, karena Allah akan memberikan kemudahan dari apa yang telah Ia ciptakan untuk kalian.” (HR Ibnu Majah).

Maka, usaha maksimal maupun minimal sebetulnya bukan penentu satu-satunya hasil. Hasil sudah pasti akan didapat ketika seseorang berusaha. Dan, hasil itu tidak mesti dipandang sebagai sebuah nilai dari upaya sebelumnya. Artinya, nilai dari hasil yang ia dapatkan dari usaha, justru ditentukan dari cara atau langkahnya dalam berupaya itu. Karena itu, usaha akan bernilai ganda jika dilakukan dengan jalan yang baik sesuai petunjuk dan tuntunan Allah SWT. Nilai positif bagi diri sendiri di dunia, sekaligus nilai mulia tak terkira di sisi Allah SWT di akhirat.