Kamis, 21 April 2011

CITA CITA YANG TERTUNDA


Alkisah, ada seorang pemuda yang hidup di keluarga yang sederhana. Ia memunyai cita-cita yang tinggi. Suatu saat, ketika masih belia, dia berkata kepada dirinya sendiri, "Suatu saat nanti, aku akan melakukan apa yang menjadi cita-cita dalam hidupku, dan pada saat itu aku akan bahagia."

Dia senang membayangkan dirinya sudah memiliki sebuah mobil mewah, mengendarainya, dan merasakan kebanggaan yang tidak terhingga karena dia dikagumi dan dibanggakan oleh banyak orang. Maka, walaupun kemiskinan tetap diakrabi dalam kesehariannya, sikapnya menjadi angkuh dan sombong karena dia merasa kelak pasti akan kaya raya seperti yang diangankan.

Ketika ditanya untuk melakukan sesuatu oleh teman-temannya, ia menjawab, "Tunggu saja kawan, nanti akan kulakukan setelah aku menyelesaikan sekolah."

Setelah berhasil menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi, ia kembali berjanji kepada dirinya sendiri dan kepada orangtuanya bahwa ia akan melakukan apa yang diinginkannya nanti, setelah ia mendapatkan pekerjaan pertamanya.

Sebelum melangkah ke dunia kerja, dia meminta nasihat kepada seorang guru besar tentang banyak hal yang dicita-citakan. Si guru berkata, "Semua yang kamu inginkan, mobil dan rumah bagus lengkap dengan fasilitasnya, adalah sesuatu yang bagus. Dan sesungguhnya, mobil dan rumah mewah itu diciptakan untuk kita yang mau dan mampu memilikinya. Dia tidak kemana-mana, kitalah yang harus bergerak untuk menghampiri dan mendapatkannya."

Mendengar tuturan si guru, pemuda itu merasa puas. Sebab, ia makin yakin dengan anggapannya bahwa mobil dan rumah tidak akan ke mana-mana. Maka, ia pun bekerja seadanya. Setelah beberapa tahun bekerja, orangtuanya menanyakan, "Anakku, kapan kamu akan mengambil tindakan untuk mewujudkan cita-citamu?"

"Aku berjanji akan mengejar cita-citaku setelah menikahi gadis yang aku cintai. Karena dengan adanya si dia sebagai pendamping hidup, maka langkahku akan mantap untuk mengejar cita-citaku."

Sampai suatu hari, setelah bertahun-tahun kemudian, ia mulai menua. Dalam hati, ia pun berkata, "Rupanya, sudah terlambat untuk memulainya sekarang. Sebab, umurku sudah tak lagi muda."

Begitulah, cita-cita si pemuda akhirnya hanya menjadi angan-angan dan omong kosong belaka. Kini, ia hanya bisa merasakan kepuasan semu dengan menikmati setiap hari dalam kehidupannya untuk mengkhayal, seandainya ia menjadi seperti yang ia cita-citakan.

Pembaca yang bijaksana,

Kebiasaan menunda dari waktu ke waktu, dapat membuat seseorang yang pada awalnya bersemangat bermimpi, akan kehilangan gairah, arah, tujuan dan berlari menjauh dari apa yang menjadi impiannya. Sebab, menunda sebenarnya hanya akan mengubur kesempatan demi kesempatan yang ada untuk mewujudkan impian.

Karena itu, cita-cita selamanya akan menjadi khayalan belaka jika kita tidak memulainya dengan rencana! Dan, yang utama, rencana tanpa tindakan nyata juga hanya akan jadi bualan semata.

Mari, selagi masih ada waktu, gunakan sebaik-baiknya waktu kita untuk menyusun kehidupan dan meraih kesempatan, demi menggapai cita-cita.


sumber : Andrie Wongso

Kisah seorang pemancing


Pada tepian sebuah sungai, tampak seorang anak kecil sedang bersenang-senang. Ia bermain air yang bening di sana. Sesekali tangannya dicelupkan ke dalam sungai yang sejuk. Si anak terlihat sangat menikmati permainannya.

Selain asyik bermain, si anak juga sering memerhatikan seorang paman tua yang hampir setiap hari datang ke sungai untuk memancing. Setiap kali bermain di sungai, setiap kali pula ia selalu melihat sang paman asyik mengulurkan pancingnya. Kadang, tangkapannya hanya sedikit. Tetapi, tidak jarang juga ikan yang didapat banyak jumlahnya.

Suatu sore, saat sang paman bersiap-siap hendak pulang dengan ikan hasil tangkapan yang hampir memenuhi keranjangnya, si anak mencoba mendekat. Ia menyapa sang paman sambil tersenyum senang. Melihat si anak mendekatinya, sang paman menyapa duluan. "Hai Nak, kamu mau ikan? Pilih saja sesukamu dan ambillah beberapa ekor. Bawa pulang dan minta ibumu untuk memasaknya sebagai lauk makan malam nanti," kata si paman ramah.

"Tidak, terima kasih Paman," jawab si anak.

"Lo, paman perhatikan, kamu hampir setiap hari bermain di sini sambil melihat paman memancing. Sekarang ada ikan yang paman tawarkan kepadamu, kenapa engkau tolak?"

"Saya senang memerhatikan Paman memancing, karena saya ingin bisa memancing seperti Paman. Apakah Paman mau mengajari saya bagaimana caranya memancing?" tanya si anak penuh harap.

"Wah wah wah. Ternyata kamu anak yang pintar. Dengan belajar memancing engkau bisa mendapatkan ikan sebanyak yang kamu mau di sungai ini. Baiklah. Karena kamu tidak mau ikannya, paman beri kamu alat pancing ini. Besok kita mulai pelajaran memancingnya, ya?"

Keesokan harinya, si bocah dengan bersemangat kembali ke tepi sungai untuk belajar memancing bersama sang paman. Mereka memasang umpan, melempar tali kail ke sungai, menunggu dengan sabar, dan hup... kail pun tenggelam ke sungai dengan umpan yang menarik ikan-ikan untuk memakannya. Sesaat, umpan terlihat bergoyang-goyang didekati kerumunan ikan. Saat itulah, ketika ada ikan yang memakan umpan, sang paman dan anak tadi segera bergegas menarik tongkat kail dengan ikan hasil tangkapan berada diujungnya.

Begitu seterusnya. Setiap kali berhasil menarik ikan, mereka kemudian melemparkan kembali kail yang telah diberi umpan. Memasangnya kembali, melemparkan ke sungai, menunggu dimakan ikan, melepaskan mata kail dari mulut ikan, hingga sore hari tiba.

Ketika menjelang pulang, si anak yang menikmati hari memancingnya bersama sang paman bertanya, "Paman, belajar memancing ikan hanya begini saja atau masih ada jurus yang lain?"

Mendengar pertanyaan tersebut, sang paman tersenyum bijak. "Benar anakku, kegiatan memancing ya hanya begini saja. Yang perlu kamu latih adalah kesabaran dan ketekunan menjalaninya. Kemudian fokus pada tujuan dan konsentrasilah pada apa yang sedang kamu kerjakan. Belajar memancing sama dengan belajar di kehidupan ini, setiap hari mengulang hal yang sama. Tetapi tentunya yang diulang harus hal-hal yang baik. Sabar, tekun, fokus pada tujuan dan konsentrasi pada apa yang sedang kamu kerjakan, maka apa yang menjadi tujuanmu bisa tercapai."


Pembaca yang budiman,

Sama seperti dalam kehidupan ini, sebenarnya untuk meraih kesuksesan kita tidak membutuhkan teori-teori yang rumit, semua sederhana saja, Sepanjang kita tahu apa yang kita mau, dan kemudian mampu memaksimalkan potensi yang kita miliki sebagai modal, terutama dengan menggali kelebihan dan mengasah bakat kita, maka kita akan bisa mencapai apa yang kita impikan dan cita-citakan. Apalagi, jika semua hal tersebut kita kerjakan dengan senang hati dan penuh kesungguhan.

Dengan mampu mematangkan kelebihan-kelebihan kita secara konsisten, maka sebenarnya kita sedang memupuk diri kita untuk menjadi ahli di bidang yang kita kuasai. Sehingga, dengan profesionalisme yang kita miliki, apa yang kita perjuangkan pasti akan membuahkan hasil yang paling memuaskan.


Salam sukses, luar biasa!!!

Dikutip dari Andriewongso.com

Kamis, 16 Desember 2010

Memaknai Sebuah "Rizki"


Pada hakikatnya, setiap manusia oleh Allah SWT sudah ditetapkan rizkinya, sejak mereka berada di dalam kandungan sang ibu. Tercatat dalam salah sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda, “Hakikatnya, proses penciptaan kalian itu, dahulu berada di dalam perut ibu kalian selama lebih kurang empat puluh hari. Kemudian (percampuran sperma dengan ovum) menjadi segumpal darah. Lalu berubah lagi, menjadi segumpal daging. Setelah itu, Allah memerintahkan kepada malaikat-Nya untuk menuliskan empat hal yang berkaitan dengan janin tersebut. Allah berkata kepada malaikat, ‘Tulislah amalnya, rizkinya, ajalnya, dan nasibnya (sengsara atau bahagia).” (HR Bukhari dari Abdullah bin Mas’ud).

Dalam bahasa Arab, usaha mencari rizki untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia disebut dengan al-kasb (jamak: al-Makasib). Dalam hadis yang lain, Rasulullah SAW bersabda, “Makanan yang paling baik untuk dimakan adalah yang seseorang hasilkan dari usaha (kasb)-nya.” (HR Tirmidzi, Abu Dawud, Nasai, Ibnu Majah, dan Ahmad). Dalam versi yang lain, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada usaha paling baik yang dilakukan oleh seseorang selain dari usaha tangannya sendiri.” HR Ibnu Majah).

Al-Mubarakfuri, pen-syarah Sunan At-Tirmidzi dalam Tuhfah al-Ahwadzi bi Syrah Jami’ al-Tirmidzi-nya menjelaskan bahwa maksud dari min kasbikum (dari usaha kalian) adalah usaha mandiri sendiri sebagai bentuk tawakalnya kepada Allah SWT, tanpa menggantungkan hidup dan kehidupan kepada orang tua, kerabatnya, maupun anak-anaknya. Apa yang seseorang hasilkan adalah murni usahanya.

Dengan demikian, bekerja atau berusaha untuk mencari rizki guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, merupakan salah satu perbuatan yang mulia, dan memiliki nilai tinggi di sisi Allah SWT. Allah SWT sendiri telah menjamin bahwa setiap orang akan mendapatkan rizkinya jika berusaha. Apa yang manusia hasilkan, merupakan buah kerjanya.

Namun, dalam kenyataan yang terlihat di sekitar kita, banyak orang yang sudah berusaha sekuat tenaga. Ibarat memeras keringat membanting tulang, namun hasilnya ternyata tidak sesuai dengan upaya maksimalnya. Tidak jarang malah ada yang usahanya minimal, tapi hasilnya maksimal. Apakah dari hal demikian, Allah SWT menyalahi janji-Nya?

Jawabannya tentu tidak. Nilai sejati usaha manusia sebenarnya tidak mesti dan melulu dilihat dari jumlah nominal. Tapi juga bisa dilihat dari sisi lain, yaitu nilai berkah yang terkandung di dalamnya. Karena itu, dalam hadis yang lain Rasulullah SAW tegaskan bahwa apa yang dihasilkan dari usaha seseorang hendaknya atas dasar upaya positif, atau jalan yang baik, tidak curang, “Perbaguslah kalian dalam usaha mencari rizki, karena Allah akan memberikan kemudahan dari apa yang telah Ia ciptakan untuk kalian.” (HR Ibnu Majah).

Maka, usaha maksimal maupun minimal sebetulnya bukan penentu satu-satunya hasil. Hasil sudah pasti akan didapat ketika seseorang berusaha. Dan, hasil itu tidak mesti dipandang sebagai sebuah nilai dari upaya sebelumnya. Artinya, nilai dari hasil yang ia dapatkan dari usaha, justru ditentukan dari cara atau langkahnya dalam berupaya itu. Karena itu, usaha akan bernilai ganda jika dilakukan dengan jalan yang baik sesuai petunjuk dan tuntunan Allah SWT. Nilai positif bagi diri sendiri di dunia, sekaligus nilai mulia tak terkira di sisi Allah SWT di akhirat.